Catatan Kang Irwan

Catatan Peristiwa, Informasi, dan Perihal Daerah Pemilihan 3 Jatim (Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo)

Bersuamikan Bupati Jembrana; Ratna, Jagoan dari Banyuwangi Agustus 27, 2008

Filed under: Serba-Serbi — kangirwan @ 11:43 am

Jakarta – Hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung Kabupaten Banyuwangi Juni 2005 memang membelalakkan mata semua orang. Bagaimana tidak! Dengan bekal dukungan 18 partai gurem, Ratna Ani Lestari bisa mengalahkan calon bupati dari partai-partai kelas kakap.

Yang menarik, 18 partai gurem pendukung Ratna tidak mewakili satu orang pun di DPRD Banyuwangi. Termasuk dalam 18 partai gurem ini adalah PKS, PAN, PKPB, Partai Merdeka, dan PNBK. Wajar saja, meski menang dalam pilkada, Ratna rentan goyangan. Kekuatan di dewan tidaklah kuat!

45 Kursi DPRD Banyuwangi sendiri diduduki oleh PDIP, Golkar, PKB, PPP, dan Partai Demokrat. Lima partai besar ini masing-masing mengusung calon dalam pilkada lalu. Hanya PPP yang berkongsi dengan Partai Demokrat dan mengusung pasangan Masduki Suud-Moch Syafii. PDIP mengusung pasangan Ali Syachroni-Yusuf Widyatmoko, Golkar mengusung Soesanto Suwandi-Abdul Kadir, dan PKB mengusung Achmad Wahyudi-Eko Sukartono.Dalam penghitungan final 28 Juni 2006 lalu oleh KPUD Banyuwangi, perolehan pasangan Ratna Ani Lestari-M Yusuf Nuris mengejutkan. Pasangan ini berhasil mengantongi 39 persen suara, dan hanya kalah di 3 kecamatan dari 24 kecamatan di kota yang dijuluki Kota Gandrung itu. Hasil ini jelas tidak diterima begitu saja oleh para kandidat lain. Mereka seakan tidak bisa menerima hasil ini.

Goyangan terhadap Ratna sudah terjadi tidak lama setelah penetapan hasil pilkada. Ada pihak yang menolak hasil pilkada, dengan alasan terjadi kecurangan. Ada juga pihak yang menuduh mantan sales produk susu ini melakukan money politics.

Goyangan agak keras menjelang pelantikan Ratna. Semua anggota DPRD Banyuwangi (45 orang) menolak pelantikan Ratna-Yusuf Nuris. Selain anggota DPRD, penolakan juga datang dari sejumlah elemen, antara lain Forum Peduli Kebenaran Masyarakat (FPKM) yang beranggotakan para ulama. Padahal, Menteri Dalam Negeri sudah mengeluarkan surat kepada Gubernur Jawa Timur Imam Utomo untuk segera melantik Ratna.

Hal-hal yang dijadikan dasar penolakan mereka terhadap Ratna, antara lain soal money politics, soal administrasi, soal pelecahan Al Quran, bahkan soal agama. Soal pelecehan Al Quran misalnya. FPKM menuding Ratna telah menghilangkan ayat 24 dalam surat Yasin dalam kampanye pilkada lalu. Dalam pilkada, pasangan Ratna-Yusuf Nuris membagikan buku Yasin, tapi ayat 24 dihapus.

Selain itu, agama Ratna juga dipermasalahkan. Para ulama menuding Ratna melecehkan agama, karena gampang berpindah agama dari Islam ke Hindu pada saat-saat tertentu. Isu ini muncul, karena Ratna bersuamikan I Gede Winasa, seseorang beragama Hindu yang kini masih menjabat Bupati Jembrana, Bali.

Goyangan lain terhadap Ratna adalah lima parpol dari 18 parpol gurem menarik dukungan, yaitu PKS, PAN, PKPB, Partai Merdeka, dan PNBK. Mereka menarik dukungan, karena Ratna mencampakkan lima parpol ini. Lima parpol ini ditinggalkan begitu saja. Alasan agama Ratna dan suaminya juga dijadikan alasan PKS untuk menarik dukungan.

Tapi, goyangan-goyangan ini dilalui mulus oleh Ratna. Nasib baik masih ada pada diri perempuan bergelar SE, MM itu. Pada 20 Oktober 2005, Gubernur Imam Utomo melantik Ratna sebagai Bupati Banyuwangi. Namun, pelantikan bupati tidak digelar di gedung DPRD Banyuwangi, seperti lazimnya, tapi digelar di pendopo Sabaswadata, Blambangan. Pelantikan di pendopo digelar karena DPRD menolak pelantikan tersebut.

Praktis, karena masih ada masalah, selama memimpin Banyuwangi hingga sekarang, Ratna masih terus menuai goyangan. Dan hari ini, Kamis (3/5/2006), Ratna kembali digoyang ribuan orang yang turun ke jalan. Mereka menamakan Forum Banyuwangi Bersatu (FBB). Mereka meminta Ratna segera turun dari jabatannya.

Alasan yang mengemuka, Ratna dituding melakukan diskriminasi dalam menerapkan program biaya pendidikan gratis. Hanya sekolah negeri yang digratiskan, tapi madrasah-madrasah milik NU (Nahdlatul Ulama) tidak. Alasan lain, selama memimpin Banyuwangi, Ratna sering keluar dari wilayah Banyuwangi menuju Jembrana, Bali, menemui suaminya.

Aksi ribuan orang ini didukung oleh DPRD. Dalam pertemuan pimpinan DPRD dengan perwakilan ulama, dan juga dihadiri Wakil Bupati Yusuf Nuris, disepakati agar Ratna segera menanggalkan jabatan sebagai Bupati Banyuwangi. Saat demo digelar, Ratna sendiri berada di luar Banyuwangi. Kabarnya sedang berada di Jakarta.

Bersuamikan Bupati Jembrana

Ratna maju dalam Pilkada Banyuwangi, setelah cukup lama mendapat pengalaman sebagai politisi. Saat mendaftar sebagai calon bupati, Ratna masih tercatat sebagai anggota DPRD Jembrana. Dia juga berstatus sebagai istri Bupati Jembrana, I Gede Winasa.

Apa sebetulnya agama Ratna? Masalah inilah yang dipersoalkan sebagian warga Banyuwangi. Saat mendaftar sebagai calon bupati, Ratna menulis beragama Islam. Di berbagai kegiatan, seperti seminar, Ratna juga ditulis bergelar Hj (hajjah). Saat kampanye, Ratna juga menyempatkan salat berjamaah di daerah-daerah yang dikunjunginya.

Isu bahwa Ratna beragama Hindu, karena suaminya beragama Hindu. Tiga anak tiri dan satu anak kandungnya juga bernamakan orang Bali. Tiga anak tiri Ratna adalah anak kandung Gede Winasa dari istri pertamanya. Mereka adalah I Gede Ngurah Patriana Krisna (27), Kadek Danendra Pramarta Krisna (24), dan Ni Komang Ayu Marina Krisna. Sedang anak kandung Ratna-Gede Winasa bernama Ni Ketut Ayu Dena Wintari (7).

Ratna menikah dengan Gede Winasa pada 1988 lalu di Kelurahan Panderejo, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi. Sebelum menikah, Winasa sudah menduda empat tahun. Winasa dan Ratna bertemu kali pertama di Universitas Mahasaraswati Denpasar, Bali. Saat itu Winasa menjabat Dekan Fakultas Kedokteran Gigi, sedangkan Ratna menjadi perwakilan/sales salah satu produk susu yang menyeponsori acara yang digelar Winasa tersebut.

Cinta tumbuh bersemi di antara keduanya, meski berbeda agama. Akhirnya, mereka pun menikah pada 14 Mei 1988, setelah Winasa menduda 4 tahun. Mereka menikah memakai cara apa, Hindu atau Islam, belum diketahui. Yang jelas, setelah menikah dengan Winasa, karir Ratna meningkat pesat. Dia bisa menggondol MM dari Program Pascasarjana Universitas Udayana dan juga menjadi anggota DPRD Jembrana dan kini menjadi Bupati Banyuwangi.

Karir Gede Winasa juga semakin mencorong. Pria bergelar profesor ini banting setir dari akademisi menjadi politisi. Akhirnya pada 2000, ahli dokter gigi ini menjadi Bupati Jembrana. Dan pada tahun 2005, Winasa kembali terpilih sebagai Bupati Jembrana untuk kedua kalinya untuk periode 2005-2010. Yang menarik, Winasa mempertahankan kekuasaannya lewat PDIP. Tapi, di Banyuwangi, istri Winasa malah dijegal PDIP. Ini politik, Bung! (Budi Sugiharto/asy)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s