oleh :
Irwan Setiawan, Humas PKS Jawa Timur
Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan yang mulia pada tahun ini merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita. Betapa tidak, dengan menunaikan ibadah Ramadhan, amat banyak keuntungan yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan.
Kegembiraan kita terhadap datangnya bulan Ramadhan harus kita tunjukkan dengan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan Ramadhan tahun sebagai momentum untuk mentarbiyyah (mendidik) diri, keluarga dan masyarakat kearah pengokohan atau pemantapan taqwa kepada Allah Swt, sesuatu yang memang amat kita perlukan bagi upaya meraih keberkahan dari Allah Swt bagi bangsa kita yang hingga kini masih menghadapi berbagai macam persoalan besar. Dalam dimensi pembinaan pribadi untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. setidaknya ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan yaitu 1.Qiyamul lail, 2.Berbuka dan bersahur, 3.Memperbanyak Tilawah Qur’an, 4.Melakukan Umrah, 5.Melakukan I’tikaf 6. Menjaga Lidah, 7.Tidak Memperturutkan Hawa Nafsu, 8.Menjaga. Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan yaitu 1. Menguatkan Jiwa, 2. Mendidik Kemauan, 3. Menyehatkan Badan, 4. Mengenal Nilai Kenikmatan, 5. Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain
Ibadah puasa memang meniscayakan kemampuan pengendalian diri secara total. Disebut total, karena puasa melatih orang-orang yang menunaikannya untuk menahan (imsak) bukan saja terhadap hal-hal yang haram, tapi juga pada perihal yang sebetulnya halal dilakukan, seperti makan, minum dan hubungan seksual di siang hari. Secara tidak langsung, aktualisasi puasa ini bakal menggugurkan pameo pragmatis yang mengatakan bahwa mencari dan melakukan hal-hal yang haram saja sulit, alih-alih mencari dan menahan diri daripada hal-hal yang halal.
Sentuhan Ramadhan
Coba lihat lalu bandingkan suasana bulan Ramadhan dengan sebelum atau sesudahnya. Kita akan melihat perbedaan yang mencolok. Di bulan Ramadhan, bukan hanya fenomena masjid-masjid yang penuh sesak dengan orang-orang yang melaksanakan shalat tarawih. Penampilan para wanita pun mengalami metamorfosa. Tak ketinggalan para artis yang -maaf- biasanya lebih senang seronok dan mengumbar aurat, banyak di antara mereka yang mengenakan busana Muslimah. Pengajian-pengajian di kantor-kantor pun menambah marak suasana ibadah di bulan
ini. Ruh Ramadhan menyusup ke relung-relung kehidupan siapa saja. Termasuk orang yang paling semula sangat jauh dengan ibadah.
Tentu saja segala keutamaan Ramadhan itu tidak menjebak kita untuk barang hanya Ramadhan bulan taat, bulan ibadah dan bulan kebaikan. Karena segala adalah bulan taat, ibadah, dan kebaikan. Puasa pada bulan Ramadhan hanyalah: satu momentum untuk menumbuhkan dan meningkatkan ketakwaan. Persoalan lain apakah cukup Ramadhan cukup dengan meningkat keshalehan pribadi saja? Apakah derajat Taqwa yang menjadi tujuan dari ramadhan berhenti hanya sebatas ketaatan kepada Allah SWT saja?
Sensitivitas Sosial
Ibadah puasa adalah inti sari dari kepompong Ramadhan yang akan menggodok hati dan jiwa manusia untuk memiliki kualitas spiritual (hablum minallah) dan sensitivitas sosial (hablum minannaas) yang menawan. Makna ibadah puasa janganlah diyakini sebagai pemenuh kewajiban ibadah semata, tetapi harus diyakini dan difahami sebagai kebutuhan jiwa dalam meningkatkan kualitas spiritual dan sensitivitas sosial.
Tidak sekadar menahan haus dan lapar, tetapi mampu merasakan jeritan hati mereka yang paling dalam. Tidak sekadar memberi upah, tetapi mampu menghargai pahit getirnya kehidupan mereka dalam berjibaku dengan kemiskinan. Tidak sekadar bersedekah dan menunaikan zakat, tetapi mampu merangkul mereka keluar dari kubang kemiskinan hingga menjadi mandiri dan mampu berzakat.
Berapa banyak dari mereka yang sudah kita sentuh? Sudahkah keimanan dan ketakwaan kita menyatu dengan ketajaman sensitivitas sosial sehingga puasa kita mampu menumbuhkan kesadaran baru yang membuka mata hati dan nurani untuk berpikir, bersikap, dan berperilaku.
Liriklah orang diluar sana. Masih banyak yang tak punya cukup uang untuk sekadar memenuhi kebutuhan perut apalagi membeli pakaian yang layak. Puasa bukannya menambah idealisme, integritras, empati, dan membangkitkan kesadaran manusia untuk melakukan perubahan sosial tapi justru malah semakin memperlebar kesenjangan sosial antara kaya dan miskin. Apalagi saat sekarang ini, ketika semua harga-harga naik. Bahkan penulis menyaksikan begitu banyak orang mengantri hanya untuk mendapatkan minyak tanah akibat langkanya bahan bakar minyak.
Akibatnya, dampak puasa belum ditumbuhkan dalam kehidupan konkrit. Berbagai bentuk kedzaliman terus merajalela, kejahatan terus mengalami eskalasi yang luar biasa, kekerasan tetap marak dimana-mana, proses dehumanisasi terus berlangsung dalam kehidupan. Atau dengan kata lain, ibadah puasa umat Islam masih bersifat individu-vertikal belum sampai ketingkat sosial-horisontal.
Jelas sekali hal ini jauh dari idealisme seorang muslim sebagai agent of change yang perannya tidak hanya mencangkup konteks individu tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Manusia mempunyai tanggung jawab untuk menggerakan masyarakat melakukan proses perubahan sosial menuju masyarakat yang terbaik atau biasa disebut khairu ummah yang mampu menjadi Rahmatan lil alamiin (berkah bagi sekalian alam). Manusia sebagai agent of change haruslah memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi kemanusiaan tidak hanya bagi diri sendiri.
Nilai strategis Ramadhan haruslah kita sambut dengan antusias dan serius. Nilai-nilai spiritual, kebersamaan, empati, dan hemat perlu kita bina dalam memanfaatkan momentum Ramadhan kali ini. Sudah saatnya kita berubah dan mentransformasikan diri ke arah kematangan jiwa dan mentransformasikan masyarakat ke arah madaniyah dimana kualitas dan kuantitas hablum minallah dan hablum minannas berjalan harmonis. Kedekatan pada Allah semakin meningkat dan kualitas silaturahmi dan muamalah antar sesama semakin sinkron. Semakin dekat dengan Allah sudah seharusnya semakin pekalah sensitivitas seseorang. Wallahu ‘alam.
*Dimuat di Harian Radar Surabaya, 11 September 2008