suarasurabaya.net| Pertumbuhan perusahaan perhiasan skala besar sampai saat ini stagnant. Ini disebabkan perusahaan masih membutuhkan keahlian baik dari sisi desain maupun sentra industri yang terbatas di Jawa Timur maupun di Martapura.
FAUZI AZIZ Sekjen Departemen Perindustrian (Depperin) pada wartawan di sela pembukaan “Surabaya Internasional Jewellery Fair (SIJF) 2008”, Jumat (22/08), mengatakan sedangkan perusahaan perhiasan skala IKM (Industri Kecil Menengah) jumlahnya mencapai 60% dari 36 ribu perusahaan perhiasaan.
“Untuk industri perhiasan, masih menjadi prioritas dari Depperin. Bahan bakunya melimpah di tanah air. Apalagi nilai ekspor dari industri ini sebesar US$ 115,9 juta pada 2007 lalu. Sedangkan nilai produksi mencapai 1,77 juta ton,”ujarnya.
Dari sisi harga, kata FAUZI, perhiasan khususnya emas cenderung terus naik. Menyiasati hal tersebut, banyak perusahaan memproduksi dengan mengkombinasikan emas dengan bahan lainnya seperti mutiara maupun perak.
Sementara itu, LEO HADI LOE Ketua Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (Apepi) mengatakan, seiring bangkitnya industri perhiasan sekarang ini banyak muncul perangkai perhiasan dari kalangan IKM. Mereka tersebar di 8 sentra industri di Jawa Timur yakni di Banyuwangi, Jember, Lumajang, Pasuruan, Surabaya, Lamongan, Tuban dan Malang.
“Di setiap sentra indutri ada sekitar 50 hingga 100 industri kecil. Di Jawa Timur sendiri juga akan disiapkan pusat belanja dan produksi perhiasan yakni Jemo Polish seluas 140 hektar di daerah Juanda. Proses pembangunan sudah selesai tinggal akses jalan mendekati finishing,”ungkap LEO.
LEO menambahkan kebutuhan emas di Indonesia rata-rata sebesar 60 ton per tahun. Selama semester I/2008, kebutuhan emas menurun seiring dengan penurunan daya beli. Namun di semester II ini, LEO memprediksi industri emas bakal naik pesat.
“Dari sisi ekspor perhiasan Indonesia lebih dari 10 ton per tahun dimana 85% disumbang dari Jawa Timur. Ekspor perhiasan dari Jawa Timur ke Amerika Serikat, Hong Kong, Emirat Arab, Singapura, India, Jerman, Jepang dan Italia,”pungkasnya. (tin)