Catatan Kang Irwan

Catatan Peristiwa, Informasi, dan Perihal Daerah Pemilihan 3 Jatim (Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo)

Sulitkah Membangun Budaya Baca? Agustus 21, 2008

Diarsipkan di bawah: Opini — kangirwan @ 1:33 pm

foto-irwan.jpgPada tahun 2000 organisasi International Educational Achievement (IEA) pernah melakukan penelitian tentang minat baca di kalangan anak di Dunia. Dalam penelitan ini IEA menempatkan kemampuan membaca siswa SD Indonesia di urutan ke-38 dari 39 negara. Atau terendah di antara negara-negara ASEAN. Dengan kondisi seperti itu, maka tak heran bila kualitas pendidikan di Indonesia juga buruk. Dalam hal pendidikan, survei The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan di Singapura, pada akhir 2001, menempatkan Indonesia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang diteliti.

Sebagian besar bangsa Indonesia tidak banyak membaca dan belajar sehingga sulit untuk mengerti, menguasai, mentransfer dan menggunakan IPTEK untuk produksi barang dan jasa yang bermutu. Angka partisipasi pendidikan buta huruf 9,8%, SD 56,8%, SLTP 15%, SLTA 15,1%, PT 2,3% (BPS 2000).Kemampuan baca tulis Indonesia no.2 terendah (36%), Venezuela (33,9%) (IEATest, Muchtar Bucheri 1997). Ratio 1 buku /4 orang; negara maju 4 buku/orang (Djojonegoro 1995). Akses surat kabar 2,8%, negara maju 10-30%. Dari semua sekolah yang memiliki perpustakaan SD 1%, 16% SLTP, 54% SLTA, 60% PT. Desa dan kecamatan yang ada perpustakaan 1/2% (Depdiknas 2002). UI, PT kebanggaan bangsa Indonesia berada pada peringkat 62 dari PT di Asia dan Pasifik (Asia Weeks 2000, Ki Supriyoko 2002)

Kalau kondisi ini dibiarkan terus, selamanya bangsa Indonesia akan ketinggalan, hanya menjadi konsumer dan target pasar bangsa lain. Bangsa Indonesia tidak akan pernah dapat hidup sejajar dengan bangsa maju seperti Singapore, Jepang, Amerika, Australia, Jerman, dan lainnya. Apalagi bersaing di pasar bebas, akan selalu kalah. Apabila ingin hidup sejajar dan bersaing di pasar bebas kita harus mampu mempelajari, mentransfer, menguasai, dan menggunakan IPTEK. Membaca dan belajar merupakan jembatan untuk menguasai , mentransfer, dan menggunakan IPTEK dalam produksi barang dan jasa. Membangun budaya baca dan belajar menjadi kunci untuk membuka pintu bangsa Indonesia menuju bangsa yang maju.
Kondisi seperti ini sudah seharusnya mendapatkan perhatian yang serius dari semua pihak khususnya pemerintah. Membaca adalah satu aktivitas yang sangat penting untuk membangun budaya berpikir. Apalagi menanamkan budaya pada anak-anak sejak dini menjadi jauh lebih penting. Karena kenyataannya anak-anak itulah yang pada akhirnya akan menjadi cikal bakal para pemimpin bangsa. Sesulit apakah membangun budaya baca? Bagaimana membuat gairah membaca menjadi meningkat?

Membangun budaya baca pada anak-anak membutuhkan tiga komponen pendidikan yakni perpustakaan, dunia perbukuan dan lembaga pendidikan secara terkoodinasi sehingga tercipta iklim yang mendorong tumbuh kembangnya minat dan budaya baca masyarakat. Yang tidak kalah penting adalah peningkatan sarana dan prasarana serta mutu layanan yang cepat, mudah dan murah bagi masyarakat.

Selain itu perlu study secara menyeluruh, seberapa jauh minat anak-anak mengunjungi perpustakaan, apa motif utama pengunjung meminjam atau membaca, melakukan penelitian, rekreasi atau hiburan serta berapa judul buku-buku yang dibaca setiap bulan. Dalam hal ini, pemerintah menjadi domain utama.

Namun perlu diingat bahwa membangun budaya baca dan belajar, bukan hanya sekedar menyediakan buku, majalah, fasilitas, gedung, ruangan, dan kantor tetapi lebih dari itu. Membangun budaya baca dan belajar berarti membangun pemikiran, perilaku, dan budaya dari generasi yang tidak suka membaca menjadi generasi suka membaca dan belajar. Membangun budaya baca memerlukan keterlibatan semua pihak, semua sektor, semua disiplin ilmu.

Menurut penulis ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membangun budaya baca yaitu Pertama, variasi kegiatan yang disesuaikan dengan kondisi dan keadaan daerah akan sangat menentukan tingkat keberhasilan upaya menumbuhkan minat baca ini. Keikutsertaan khazanah budaya lokal penulis yakin dapat mendongkrak kesukaan terhadap kegiatan membaca. Sehingga perpustakaan atau sudut baca tidak hanya ruang yang hening tapi dapat juga diisi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih entertain yang dapat menarik minat warga khususnya anak-anak.
Kedua, Dukungan dari masyarakat juga menjadi faktor penting. Gerakan masyarakat untuk menyumbangkan bukunya merupakan salah satu daya dukung yang sangat penting. Selain itu dukungan dari Toko-toko  buku juga menjadi penting sebagai pensuplai buku untuk Taman Baca.
Ketiga, semakin banyak sudut baca tentunya akan semakin mengefektifkan cara untuk meningkatkan budaya baca pada anak. Terbentuknya 140 Taman Baca Rumah Pelangi yang pernah dilansir oleh Pos Wanita Keadilan (PWK) PKS Jawa Timur menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk membudayakan minat baca bagi anak-anaknya. Apalagi bila dukungan dari masyarakat semakin meluas untuk membangun taman baca hingga tingkat RT atau RW. Pemerintah daerah juga dapat juga membuka sudut baca ditengah-tengah arena bermain atau ditaman kota. Sehingga sembari bermain warga bisa juga sembari membuka cakrawala.

Keempat, Perlu Usaha keras untuk mendorong anak berkenalan dengan rumah taman baca sejak dini. Bahkan, perkenalan pertama anak dengan menjadi rumah sebagai perpustakaan keluarga. Anak yang terbiasa melihat buku dan kebiasaan membaca dari orang tuanya akan membuat mereka gemar membaca.

Terakhir, penulis berpendapat hendaknya momentum peringatan hari anak yang jatuh pada tanggal 23 Juli setiap tahunnya menjadi ajang untuk merevitalisasi semangat membangun budaya baca baik dikalangan anak-anak maupun dikalangan orang tua. Aksi seruan untuk mematikan TV sehari secara simbolis yang dilakukan pada tanggal 20 Juli lalu menjadi penyemangat baru. Bergulirnya gerakan taman baca bertemu dengan semangat membangun budaya baca kemudian didukung dengan partisipasi semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat menjadi harapan baru munculnya generasi baru yang lebih cerdas. Persoalannya bukan sulit atau mudah melainkan berada pada konsistensi semua pihak untuk mendukung upaya membangun budaya membaca.
Wallahu a’lam.

*dimuat di Harian  Bhirawa, 7 Agustus 2008.

 

One Response to “Sulitkah Membangun Budaya Baca?”

  1. kangirwan Says:

    Harian Bhirawa terbit di seluruh kota jawa timur tapi tidak dijual. yang berlangganan birokrasi.


Leave a Reply