Catatan Kang Irwan

Catatan Peristiwa, Informasi, dan Perihal Daerah Pemilihan 3 Jatim (Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo)

Aktivitas Humas Agustus 21, 2008

Diarsipkan di bawah: Galeri — kangirwan @ 2:25 pm

bersama-hidayat-nur-wahid-sesaat-setelah-seminar-otoda-jpip.jpg

Bersama Hidayat Nur Wahid sesaat setelah mengikuti Seminar Otoda JPIP

bersama-club-sepeda-gunung-anyar.jpg

Klub Sepeda Sehat PKS Gunung Anyar

bersama-presiden-pks-dalam-workshop-humas1.jpg

Bersama Presiden PKS Tifatul Sembiring saat mengikuti Workshop Humas PKS se-Indonesia di Jakarta (lagi…)

 

Menjalin Silaturahim Agustus 21, 2008

Diarsipkan di bawah: Galeri — kangirwan @ 2:07 pm

bersama-konjen-perancis.jpg

Bersama Konjen Perancis

silaturahim-ke-gus-sholahudin.jpg

Silaturahim ke Gus Sholah, Pengasuh Ponpes Tebu Ireng Jombang (lagi…)

 

Mengembalikan Kredibilitas Parpol Agustus 21, 2008

Diarsipkan di bawah: Opini — kangirwan @ 1:42 pm

img_7391irwan-setiawan-1c.jpgHasil berbagai jajak pendapat yang dilakukan beberapa lembaga survey seperti Lembaga Survey Indonesia (LSI) dan lembaga survey internasional seperti Transparansi Internasional (TII) menyangkut tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik semakin menurun sejak Pemilu 2004 lalu. Menurunnya tingkat kepercayaan publik ini tak lepas dari kerja dan kinerja parpol itu sendiri yang gagal dalam memberikan harapan akan adanya perubahan yang lebih baik. Di samping itu juga, di perparah dengan banyaknya tersangka korupsi yang berasal dari politisi parpol. Bahkan TII pernah merelease hasil serveynya pada tahun 2005 yang menempatkan parpol sebagai lembaga terkorup di Indonesia.

Image negatif parpol ini semakin di tambah lagi dengan munculnya konflik berkepanjangan di tubuh parpol. Bagaimana mau mengurus masyarakat jika mengurus rumah tangganya sendiri tidak mampu. Energi para elit parpol terkuras habis hanya untuk mengurusi konflik internal elite yang tak berkesudahan. Sementara tak ada waktu lagi bagi parpol untuk menjalankan tugas utamanya adalah mengurus dan menyelesaikan problematika masyarakat atau konstituennya. Bagaimana mau menyelesaikan masalah masyarakat jika dirinya sendiri bermasalah dan sering jadi sumber masalah? (lagi…)

 

Budaya Baca di Tengah Arus Budaya Nonton Agustus 21, 2008

Diarsipkan di bawah: Opini — kangirwan @ 1:36 pm

foto-irwan.jpgDalam era global seperti sekarang ini, Sumber Daya Manusia (SDM) yang berdaya saing, kreatif, mandiri, dan unggul menjadi tuntutan semua bangsa. Bila kita ingin tetap eksis dalam percaturan dunia, pengembangan SDM yang berkualitas adalah jawabnya.  Karena itu, pintu pendidikan bangsa ini perlu terus dibuka, diperluas dan ditingkatkan untuk menciptakan SDM Indonesia yang handal dan bermartabat agar dapat bersaing secara kompetitif dengan bangsa lain.

Salah satu upaya yang harus dilakukan dalam rangka membangun SDM berkualitas tersebut adalah dengan meningkatkan budaya membaca dikalangan anak-anak. Mengapa? Karena kenyataannya anak-anak itulah yang pada akhirnya akan menjadi cikal bakal para pemimpin bangsa.
Namun, satu kondisi yang menjadi tantangan terbesar adalah justru berada pada rendahnya minat baca tidak hanya pada kalangan anak-anak tapi juga menimpa kalangan orang tua. Bahkan budaya nonton TV seakan bekejaran dengan semangat untuk membangun budaya baca. Hampir setiap rumah punya kotak ajaib yang bernama televisi yang menyuguhkan aneka ragam hiburan dan informasi. Pertanyaannya, sesulit apakah membangun budaya membaca dikalangan anak-anak? (lagi…)

 

Sulitkah Membangun Budaya Baca? Agustus 21, 2008

Diarsipkan di bawah: Opini — kangirwan @ 1:33 pm

foto-irwan.jpgPada tahun 2000 organisasi International Educational Achievement (IEA) pernah melakukan penelitian tentang minat baca di kalangan anak di Dunia. Dalam penelitan ini IEA menempatkan kemampuan membaca siswa SD Indonesia di urutan ke-38 dari 39 negara. Atau terendah di antara negara-negara ASEAN. Dengan kondisi seperti itu, maka tak heran bila kualitas pendidikan di Indonesia juga buruk. Dalam hal pendidikan, survei The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan di Singapura, pada akhir 2001, menempatkan Indonesia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang diteliti.

Sebagian besar bangsa Indonesia tidak banyak membaca dan belajar sehingga sulit untuk mengerti, menguasai, mentransfer dan menggunakan IPTEK untuk produksi barang dan jasa yang bermutu. Angka partisipasi pendidikan buta huruf 9,8%, SD 56,8%, SLTP 15%, SLTA 15,1%, PT 2,3% (BPS 2000).Kemampuan baca tulis Indonesia no.2 terendah (36%), Venezuela (33,9%) (IEATest, Muchtar Bucheri 1997). Ratio 1 buku /4 orang; negara maju 4 buku/orang (Djojonegoro 1995). Akses surat kabar 2,8%, negara maju 10-30%. Dari semua sekolah yang memiliki perpustakaan SD 1%, 16% SLTP, 54% SLTA, 60% PT. Desa dan kecamatan yang ada perpustakaan 1/2% (Depdiknas 2002). UI, PT kebanggaan bangsa Indonesia berada pada peringkat 62 dari PT di Asia dan Pasifik (Asia Weeks 2000, Ki Supriyoko 2002)

Kalau kondisi ini dibiarkan terus, selamanya bangsa Indonesia akan ketinggalan, hanya menjadi konsumer dan target pasar bangsa lain. Bangsa Indonesia tidak akan pernah dapat hidup sejajar dengan bangsa maju seperti Singapore, Jepang, Amerika, Australia, Jerman, dan lainnya. Apalagi bersaing di pasar bebas, akan selalu kalah. Apabila ingin hidup sejajar dan bersaing di pasar bebas kita harus mampu mempelajari, mentransfer, menguasai, dan menggunakan IPTEK. Membaca dan belajar merupakan jembatan untuk menguasai , mentransfer, dan menggunakan IPTEK dalam produksi barang dan jasa. Membangun budaya baca dan belajar menjadi kunci untuk membuka pintu bangsa Indonesia menuju bangsa yang maju. (lagi…)